Ada satu angka dalam laporan kinerja industri  asuransi umum semester I/2026 yang menurut saya layak mendapatkan perhatian lebih besar. Bukan karena angkanya paling besar, tetapi justru karena angka tersebut menimbulkan pertanyaan.

Premi asuransi umum pada semester I/2026 tercatat sebesar Rp58,195 triliun, turun tipis 0,5 persen dibandingkan Rp58,501 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, di dalam angka tersebut terdapat pergerakan yang sangat berbeda antarlini bisnis.

Premi  asuransi kendaraan bermotor tumbuh 4,9 persen, marine cargo naik 4,4 persen, marine hull meningkat 10,9 persen, liability naik 15,3 persen, personal accident tumbuh 23 persen, health 2,9 persen, credit  insurance 9,3 persen, dan miscellaneous 9,3 persen.

Tetapi premi properti turun cukup tajam, dari Rp17,951 triliun menjadi Rp15,507 triliun. Artinya, terjadi penurunan sekitar Rp2,444 triliun atau 13,6 persen. Angka ini menarik karena terjadi ketika perekonomian Indonesia justru masih tumbuh.

Berdasarkan laporan AAUI, ekonomi Indonesia pada kuartal II/2026 tumbuh 5,29 persen. Kredit perbankan juga tumbuh 11,51 persen menjadi sekitar Rp8.918 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga tumbuh 13,47 persen menjadi Rp10.294 triliun.

Pertanyaannya sederhana tetapi penting: Jika ekonomi tumbuh, kredit tumbuh, dan aktivitas usaha secara umum masih berjalan, mengapa premi properti justru turun 13,6 persen? Jawabannya ternyata tidak sesederhana “ekonomi sedang melemah”.

Lembaga independen penyelenggara sertifikasi kompetensi profesi perasuransian indonesia.

Menu

Tentang Kami

Skema Kompetensi

Mitra LSPPI

Berita & Kegiatan

Alamat LSPPI

Graha APPARINDO, Rukan Sudirman Park Blok C25, Jakarta Pusat 10220

info@lsppiasuransi.com

021-25981707

© 2026 LSPPI. All rights reserved.